Dari laboratorium riset hingga ruang praktik — ekosistem regeneratif Indonesia sedang naik kelas.
Setahun belakangan, kedokteran regeneratif di Indonesia bergerak lebih cepat dibandingkan periode mana pun sebelumnya. Perubahan terjadi serentak di tiga lapisan: industri dan laboratorium, regulasi, dan komunitas ilmiah. Memahami ketiganya penting bagi dokter yang ingin membangun praktik regeneratif yang bertanggung jawab.
Pemrosesan sel punca dan produk biologis kini tersedia di laboratorium-laboratorium dalam negeri yang menerapkan standar Good Manufacturing Practice (GMP) dan bersertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) — mencakup kontrol mikrobiologi, partikulat, suhu, kelembapan, hingga tekanan udara ruang produksi. Aplikasi GMP dan sistem mutu dalam produksi stem cell serta secretome menjadi kunci kepercayaan: kualitas produk biologis ditentukan oleh disiplin prosesnya, bukan hanya oleh bahan bakunya.
UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023 menghadirkan kerangka baru mengenai kompetensi, kewenangan klinis, dan pembiayaan — termasuk bagi tindakan medis berbasis teknologi baru. Bagi praktisi regeneratif, arah kebijakannya jelas: tindakan harus berada dalam lingkup kewenangan klinis yang sah, dengan standar dan dokumentasi yang dapat diaudit. Di sisi lain, jalur akreditasi kegiatan pendidikan medis lanjut semakin hidup — terbukti dengan terbitnya akreditasi 10 SKP untuk Advanced SVF Masterclass oleh Kolegium Kesehatan Indonesia bersama Kolegium Anestesiologi dan Terapi Intensif.
Ekosistem ilmiah regeneratif Indonesia kini terhubung dua arah. Ke dalam: forum seperti Pre-Conference ICN & iCORE 2027 — yang mempertemukan regulator (BPOM, Kemenkes), kolegium, universitas, dan klinisi dalam satu panggung — diselenggarakan di IMERI FKUI Jakarta, 4–5 Desember 2026, lengkap dengan workshop hands-on SVF, produk darah, dan injeksi intra-artikular (lihat jadwal kegiatannya). Ke luar: kemitraan dengan jejaring internasional seperti WIRM — World Institute of Regenerative Medicine, yang menjadikan standar dan perkembangan global dapat diakses praktisi Indonesia.
Perkembangan ini menegaskan satu hal: kedokteran regeneratif Indonesia sedang berpindah dari fase "menarik untuk dibicarakan" menuju fase "wajib dikuasai dengan benar". RMPS hadir persis di titik transisi tersebut — menghubungkan ilmu dasar, keterampilan praktik, dan jejaring ilmiah untuk dokter Indonesia.
Sumber: Sel Punca & Terapi Regeneratif dalam Manajemen Nyeri (Bab II: Dasar-Dasar Terapi Regeneratif; Bab VIII: Pertimbangan Klinis dan Etika) & Aplikasi Sel Punca dan Terapi Regeneratif dalam Manajemen Nyeri, dr. Ahmad Muttaqin Alim, Sp.An, FIP, FSRM, Dipl.Pain, M.Sc.DM.
Mulai dari kelas yang tepat, bersama komunitas yang tepat.
WhatsApp 0813-1200-0323